Senin, 19 Juni 2017

Resensi Dr. White by Adipati Sabrang el-Faruq







Menolak menuruti keinginan sang ayah agar menjadi ekonom, Arthur Lary White diusir dari rumahnya. Ia pun sendirian menyelesaikan kuliahnya di kedokteran, bidang yang menjadi pilihannya. Malangnya, gadis yang selama ini selalu mewarnai hari-harinya, Luna, menebar fitnah yang membuat Arthur dipenjara dan kehilangan izin praktik.

Selepas dari penjara, kehidupan Arthur berubah total. Ia berkeliaran di jalanan pada malam hari, menyambangi tempat pertandingan gulat ilegal, mabuk, juga memalak. Ia juga mengganti namanya menjadi Tim Webb.

Secara perlahan, hidup Arthur yang kelam mulai bercahaya ketika bertemu dengan Nisa, gadis kecil berkerudung merah jambu yang selalu mengikuti ke mana pun laki-laki itu pergi. Akan tetapi, bukan dendamnya terhadap Luna yang menggelisahkan hatinya, melainkan dorongan kuat untuk mencari sebuah kunci gerbang kebenaran, sebuah anugerah tak terkira yang mengubah cara pandang dan jalan hidupnya.
 

Novel inspiratif tentang pencarian kembali jati diri seseorang yang menjadi korban fitnah di masa lalu. Luka yang menghancurkan titik kebaikan sehingga melahirkan kisah gelap di kehidupan seseorang. Kepedihan yang mengubah nilai hidup seseorang menjadi tak terarah, dan mengukir rasa tidak peduli. Hingga membuat Dr. White mengubur kelam masa lalunya dan mengganti nama menjadi Tim Webb.
Dalam novel ini, penulis menggambarkan karakter setiap tokoh secara terperinci. Semua dijelaskan secara gamblang kepada pembaca. Beberapa tokoh antagonis datang dari masa lalu, dan beberapa tokoh bersayap malaikat hadir di masa kini. Pembaca diarahkan pada petuah-petuah religi yang disampaikan secara jelas melalui dialog-dialog yang terjadi. Beberapa pesan bermuatan filosofis seperti,”Diperlukan kegelapan yang sangat pekat untuk melihat cahaya yang kukuh dan sejati.”
Namun, di beberapa bagian saya merasa bahwa plot ceritanya terlalu dipaksakan dan tidak logis. Misalnya saat Tim Webb berusaha untuk menyelamatkan hidup dua orang anak bernama Nisa dan Finn. Seolah penulis terlalu memanjakan Tim Webb. Seperti abrakadabra. Ia bisa melakukan apa saja dengan mudah, tanpa tantangan. Pun tidak membuat saya lebur dalam tokoh Tim Webb. Lebih tepatnya, kurang menggigit dalam melahirkan konflik dan penyelesaian. Tidak melahirkan rasa ingin tahu yang kuat pada pembaca.
          Selain adegan penyelamatan dua orang anak tadi, ada hal ganjil lain yang saya baca. Yaitu saat Tim Webb membakar kamar apartemen yang dia sewa dari seorang teman perempuannya, Alice. Bagaimana mungkin penulis berpikir bahwa itu tidak akan merambat ke bagian bangunan lainnya. Kita tahu seberapa dahsyatnya api bekerja bukan?  Mungkin penulis terinspirasi dari sebuah film aksi, dimana sang tokohnya meledakkan tempat tinggalnya demi untuk menghapus jejak.
          Kemudian saat acara pertunangan Luna dengan Ronald Tarry White. Saya pikir ceritanya tidak masuk akal. Bagaimana mungkin Tim Webb beraksi menjebak Luna. Kemudian dengan begitu mudahnya Luna berubah pikiran dan mengungkapkan isi hatinya pada orang yang bahkan ia pun tidak mengenalnya.
          Terlepas dari beberapa hal tersebut, pesan moral yang disampaikan penulis melalui tokoh lelaki berpakaian serba putih pada Tim Webb saat sedang terluka parah, sangat  baik untuk kita pahami. “Jika kamu benar-benar meyakini dengan hati yang paling dalam jika Tuhan itu hanya Allah dan kamu juga meyakini bahwa Nabi Muhammad itu utusan Allah, maka kamu telah memegang kuncinya dan pintu-pintu (surga) terbuka untukmu.”
          Bagus tidaknya isi cerita buku ini kalau ditandai dengan bintang dari satu sampai lima, saya beri tiga.

 






Judul : Dr. White

Penulis : Adipati Sabrang el-Faruq

Editor : @rinalubis_stone

Tata Sampul : Ferdika

Tata Isi : Lestari

Pracetak : Wardi

Penerbit: Safirah

Cetakan : 1, Juli 2012

276 halaman



 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar