Menolak menuruti keinginan sang ayah agar menjadi
ekonom, Arthur Lary White diusir dari rumahnya. Ia pun sendirian menyelesaikan
kuliahnya di kedokteran, bidang yang menjadi pilihannya. Malangnya, gadis yang
selama ini selalu mewarnai hari-harinya, Luna, menebar fitnah yang membuat
Arthur dipenjara dan kehilangan izin praktik.
Selepas dari penjara, kehidupan Arthur berubah total.
Ia berkeliaran di jalanan pada malam hari, menyambangi tempat pertandingan
gulat ilegal, mabuk, juga memalak. Ia juga mengganti namanya menjadi Tim Webb.
Secara perlahan, hidup Arthur yang kelam mulai
bercahaya ketika bertemu dengan Nisa, gadis kecil berkerudung merah jambu yang
selalu mengikuti ke mana pun laki-laki itu pergi. Akan tetapi, bukan dendamnya
terhadap Luna yang menggelisahkan hatinya, melainkan dorongan kuat untuk
mencari sebuah kunci gerbang kebenaran, sebuah anugerah tak terkira yang
mengubah cara pandang dan jalan hidupnya.
Novel
inspiratif tentang pencarian kembali jati diri seseorang yang menjadi korban
fitnah di masa lalu. Luka yang menghancurkan titik kebaikan sehingga melahirkan
kisah gelap di kehidupan seseorang. Kepedihan yang mengubah nilai hidup
seseorang menjadi tak terarah, dan mengukir rasa tidak peduli. Hingga membuat
Dr. White mengubur kelam masa lalunya dan mengganti nama menjadi Tim Webb.
Dalam
novel ini, penulis menggambarkan karakter setiap tokoh secara terperinci. Semua
dijelaskan secara gamblang kepada pembaca. Beberapa tokoh antagonis datang dari
masa lalu, dan beberapa tokoh bersayap malaikat hadir di masa kini. Pembaca
diarahkan pada petuah-petuah religi yang disampaikan secara jelas melalui
dialog-dialog yang terjadi. Beberapa pesan bermuatan filosofis seperti,”Diperlukan
kegelapan yang sangat pekat untuk melihat cahaya yang kukuh dan sejati.”
Namun,
di beberapa bagian saya merasa bahwa plot ceritanya terlalu dipaksakan dan
tidak logis. Misalnya saat Tim Webb berusaha untuk menyelamatkan hidup dua
orang anak bernama Nisa dan Finn. Seolah penulis terlalu memanjakan Tim Webb. Seperti
abrakadabra. Ia bisa melakukan apa saja dengan mudah, tanpa tantangan. Pun tidak
membuat saya lebur dalam tokoh Tim Webb. Lebih tepatnya, kurang menggigit dalam
melahirkan konflik dan penyelesaian. Tidak melahirkan rasa ingin tahu yang kuat
pada pembaca.
Selain adegan penyelamatan dua orang
anak tadi, ada hal ganjil lain yang saya baca. Yaitu saat Tim Webb membakar
kamar apartemen yang dia sewa dari seorang teman perempuannya, Alice. Bagaimana
mungkin penulis berpikir bahwa itu tidak akan merambat ke bagian bangunan
lainnya. Kita tahu seberapa dahsyatnya api bekerja bukan? Mungkin penulis terinspirasi dari sebuah film
aksi, dimana sang tokohnya meledakkan tempat tinggalnya demi untuk menghapus
jejak.
Kemudian saat acara pertunangan Luna
dengan Ronald Tarry White. Saya pikir ceritanya tidak masuk akal. Bagaimana mungkin
Tim Webb beraksi menjebak Luna. Kemudian dengan begitu mudahnya Luna berubah
pikiran dan mengungkapkan isi hatinya pada orang yang bahkan ia pun tidak
mengenalnya.
Terlepas dari beberapa hal tersebut,
pesan moral yang disampaikan penulis melalui tokoh lelaki berpakaian serba
putih pada Tim Webb saat sedang terluka parah, sangat baik untuk kita pahami. “Jika kamu
benar-benar meyakini dengan hati yang paling dalam jika Tuhan itu hanya Allah
dan kamu juga meyakini bahwa Nabi Muhammad itu utusan Allah, maka kamu telah
memegang kuncinya dan pintu-pintu (surga) terbuka untukmu.”
Bagus tidaknya isi cerita buku ini
kalau ditandai dengan bintang dari satu sampai lima, saya beri tiga.
|
|
|||
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar