Selasa, 20 Juni 2017

Resensi Antologi Rasa by Ika Natassa



Keara
We’re both just people who worry about the breath we take, not how we breathe. How can we be so different and feel so much alike, Rul? Dan malam ini, tiga tahun setelah malam yang membuatku jatuh cinta, my dear, aku terbaring di sini menatap bintang-bintang di langit pekat Singapura ini, aku masih cinta, Rul, Dan kamu mungkin tidak akan pernah tahu. Three years of my wasted time loving you.

Ruly
Yang tidak gue ceritakan ke Keara adalah bahwa sampai sekarang gue merasa mungkin satu-satunya momen yang bisa mengalahkan senangnya dan leganya gue subuh itu adalah kalau suatu hari nanti gue masuk ke ruangan rumah sakit seperti ini dan Denise sedang menggendong bayi kami yang baru dia lahirkan. Yang tidak gue ceritakan ke Keara adalah rasa hangat yang terasa di dada gue waktu suster membangunkan gue subuh itu dan berkata,”Pak, istrinya sudah sadar,” dan bahwa gue bahkan tidak sedikit pun berniat mengoreksi pernyataan itu. Mimpi aja terus, Rul.


Harris
Senang definisi gue: elo tertawa lepas. Senang definisi elo? Mungkin gue nggak akan pernah tahu. Karena setiap gue melakukan hal-hal manis yang gue lakukan dengan perempuan-perempuan lain yang sepanjang sejarah tidak pernah gagal membuat mereka klepek-klepek, ucapan yang harus gue dengar hanya,”Harris darling, udah deh, nggak usah sok manis. Go back being the chauvinistic jerk that I love.” That’s probably as close as I can get to hearing that she loves me.
Tiga sahabat. Satu pertanyaan. What if in the person that you love, you find a best friend instead of a lover?

Ika Natassa adalah seorang penulis yang cerdas. Beliau memiliki pengetahuan yang luas tentang hal apapun. Dari mulai pengetahuan tentang musik, film, filsafat, Formula One, dan masih banyak lagi. Dan Ia berhasil memasukkan semua unsur pengetahuannya secara detail ke dalam jalinan cerita. Selain itu penulis pun melakukan riset mendalam terhadap setting lokasi. Perpindahan lokasi yang selalu membuatku ikut berkelana. Dari mulai Jakarta, Bali, Manila, dan Singapura.
Selain itu, dalam buku ini dialognya pun banyak menggunakan bahasa Inggris. Meski terkadang agak kagok membacanya. Seolah mengalami turbulensi dalam membaca. J Hal menarik lainnya adalah dalam penulisan judul per bab. Ia menggunakan bahasa latin. Misalnya Cuivis dolori remedium est patientia. Sedangkan untuk artinya tercantum dalam catatan kaki, yang juga menggunakan bahasa Inggris, yaitu patience is the cure of all suffering. (Dan, membaca judul-judul per bab ini lebih terasa menyenangkan dan indah dibandingkan membaca kisah cinta dalam kisah para tokohnya).
            Novel ini hampir seluruh halamannya berkisah tentang persahabatan antara Keara, Ruly, dan Harris. Tentunya bukan sekadar persahabatan biasa. Namun, persahabatan yang bertabur kisah cinta segi tiga di dalamnya. Harris cinta Keara, Keara cinta Ruly, dan Ruly cinta siapa. Seperti itu kira-kira buku ini bercerita. Uniknya adalah setiap tokoh bercerita dari sudut pandang masing-masing. Jadi pembaca hanya mengikuti alur, terbawa pada tokoh siapa yang sedang berperan.
Kisah cintanya pun bukan sekadar kisah cinta sederhana, berbumbu salam manis atau adegan curi-curi pandang. Namun kisah cinta dewasa seperti adegan para aktor film asing. Waw juga menurutku. Penulis begitu berani menciptakan karakter tokoh dengan begitu liarnya.
            Harris dan Keara dua tokoh berkarakter sama memiliki pesona tingkat dewa dan kemampuan menaklukan lawan jenis dengan begitu mudahnya. Pesona inilah yang membuat Harris begitu percaya diri saat bertemu dengan setiap perempuan cantik. Tidak cukup sekadar mengagumi kecantikannya, namun segala penaklukannya pun akan berakhir di kasur. Pyuh. Separah itukah pergaulan dan cinta berpindah tempat? Namun, kepercayaan dirinya pupus saat ia merasakan jatuh cinta pada Keara.
Keara dengan kecantikannya, juga terkenal dengan sebutan PK (Penjahat Kelamin). Begitu santai menanggapi ungkapan cinta dari Harris. Karena ia tidak lagi memercayai sahabatnya itu dalam hal percintaan. Ia hanya membutuhkan Harris sebagai sahabat yang siap mendengar apa pun keluhannya kapan saja. Lain halnya perasaan Keara untuk Ruly. Perasaan cinta yang bertahun ia pendam.
Dari segi isinya, menurutku novel ini kurang gereget. Tidak seperti beberapa novel Ika Natassa yang sebelumnya pernah kubaca. Ceritanya monoton. Kisah cinta kejar-kejaran antara Harris, Keara, Ruly, Denise. Hanya berputar-putar di sekitar cinta segitiga dan kasih tak sampai. Kisah cinta permukaan, dan tidak menyentuh perasaan. Mungkin dikarenakan karakter Keara yang begitu bebasnya bergaul dengan lelaki, sehingga perasaan cinta terpendam terhadap Ruli itu seperti hambar.

Kalau diberi tanda bintang satu sampai lima, saya beri dua.


Judul buku : Antologi Rassa
Penulis : Ika Natassa
Editor : Rosi L. Simamora
Desain Cover : Ika Natassa
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama, Agustus 2011
Cetakan : Ke empat, Maret 2012
Halaman : 344
ISBN : 978 - 979 – 22 – 7439 - 4